review film tenggelamnya kapal van der wijck

Ketikafilm menceritakan lokasi di Padang Panjang, warna layar sekarang lebih hangat. Dengan ketajaman gambar yg fantastis. Baguuus banget. Semacam obat mata yg tadi silau. Yg biru tadi rasanya dingin dan silau, yg sekarang (kuning emas agak-agak sephia) rasanya hangat dan menyehatkan. Mujurada Bang Muluk.https://mlstudios.my#syafiqahghazali_ #filem MovieReview: Tenggelamnya Kapal van der Wijck 1. INTRO STORYLINE 5 REASONS WHY YOU SHOULD WATCH IT 2. •Soraya Intercine Films (Dec 2013) •Genre: Romance •Duration 165 minutes •Director: Sunil Soraya •Producers: Ram Soraya, Sunil Soraya •Screenwriters: Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro •Cast: Herjunot Ali, Reza Rahadian, Pevita Pearce, Randy "Nidji" •Minang, Makassar, Malay Ulasan Film Tenggelamnya Kapal van der Wijck adalah salah satu film bergenre Roman Indonesia yang sangat menguras emosi, ditambah akting para pemainnya yang sangat mengagumkan. Alur film ini juga TENGGELAMNYAKAPAL VAN DER WIJCK adalah film ambisius besutan Sunil Soraya yang sebelumnya menahkodai APA ARTINYA CINTA? (2005). Diadaptasi dari sastra klasik berjudul sama karya Hamka yang sudah dicetak puluhan kali sejak 1938. Tentu saja, tidak mudah mengadaptasi sebuah buku ke dalam medium film. Süddeutsche Zeitung München Heirat Und Bekanntschaften. Tenggelamnya Kapal van der Wijck merupakan film Indonesia yang rilis pada tahun 2013, diproduksi oleh Ram Soraya, dan disutradarai oleh Sunil Soraya. Film ini diadaptasi dari novel legendaris milik Buya Hamka yang terbit pada tahun 1938. Film yang mengambil latar pada masa Indonesia masih dijajah Belanda ini dimainkan oleh beberapa aktor berbakat, seperti Herjunot Ali Zainuddin, Pevita Pearce Hayati, dan Reza Rahadian Aziz. Film Tenggelamnya Kapan Van der Wicjk berkisah tentang Zainuddin yang pindah dari Makassar ke Batipuh untuk menuntut ilmu. Di desa Batipuh, ia langsung jatuh cinta terhadap Hayati yang merupakan kemenakan dari ketua suku Minangkabau. Kata paman Zainuddin, sang ketua suku Minangkabau tidak memperbolehkan pemuda Batipuh untuk menjadi suami Hayati. Namun, penjelasan tersebut tak mematahkan keingintahuan Zainuddin terhadap Hayati. Sepulang mengaji dari surau, Zainuddin meminjamkan payung kepada Hayati yang tengah berteduh di sebuah warung bersama seorang teman perempuan. Sejak saat itu, Zainuddin dan Hayati saling berkirim surat yang membuat mereka menjadi dekat. Warga yang melihat jika Zainuddin dan Hayati sering bertemu pun mengadukan hal tersebut kepada sang ketua suku, yang menyebabkan Hayati diminta untuk menjauhi Zainuddin, sedangkan Zainuddin sendiri diusir dari tanah Batipuh. Tak hanya itu saja, Hayati juga dijodohkan dengan Aziz, seorang padagang kaya raya dari kota Padang Panjang yang membuat Zainuddin dilanda keterpurukan selama berbulan-bulan karena Hayati telah mengingkari janji mereka. Tak ingin dilanda kesedihan terus-menerus, Zainuddin memutuskan untuk merantu ke Surabaya bersama Muluk. Di sana, ia menjadi seorang penulis yang sukses. Namun, tak lama kemudian sosok Hayati dan Aziz kembali muncul di kehidupan Zainuddin yang mengingatkannya akan luka lama. Ulasan Film Tenggelamnya Kapal van der Wijck adalah salah satu film bergenre Roman Indonesia yang sangat menguras emosi, ditambah akting para pemainnya yang sangat mengagumkan. Alur film ini juga sangat menarik serta suasana yang diperlihatkan pada film ini benar-benar seperti saat Indonesia masih dijajah oleh kolonial Belanda. Namun sayangnya, alur film ini bisa dibilang lambat. Dialog para tokohnya juga menggunakan bahasa Minang sehingga bagi penonton yang tidak mengerti bahasa Minang harus menyimak terjemahannya, membuat kefokusan para penonton sedikit terbagi. Akan tetapi, penulis tetap merekomendasikan film ini untuk ditonton bagi penikmat film bergenre roman Indonesia karena film ini tidak hanya berkisah mengenai cinta, tetapi juga tentang perjuangan hidup seseorang, yakni Zainuddin. "Cinta bukan melemahkan hati atau memutus pengharapan tetapi cinta memberikan kekuatan hati dan menumbuhkan pengharapan." Let’s be honest. Saat pertama kali saya mendengar gagasan diangkatnya sastra klasik Indonesia, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, hasil buah karya sastrawan mahsyur Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka ke layar lebar oleh rumah produksi penelur Eiffel I’m in Love, Soraya Intercine Films, rasa skeptis dalam diri membumbung begitu tinggi. Ketakutan pula keraguan ini bukannya tanpa alasan, masih segar dalam ingatan bagaimana kejinya MD Pictures dalam menodai kesucian Di Bawah Lindungan Ka’bah tempo hari. Dengan deretan pemain utama yang belum pula teruji kehebatannya – pengecualian untuk Reza Rahadian, tentu saja – maka saya pun kudu menekan ekspektasi hingga ke titik terendah kala menguji cita rasa dari versi film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Dengan tiada sedikit pun pengharapan untuk film, secara mengejutkan, saya justru terlena kala menyaksikannya. Saya sama sekali tidak menduga akan mengacungkan jempol kepada Sunil Soraya atas upayanya dalam mengejawantahkan karya Hamka ke bahasa gambar dengan begitu memikat hati, terlebih setelah dalam beberapa bulan terakhir tak henti-hentinya saya mencibir. Sekalipun berhiaskan judul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Anda jangan keburu membubuhkan harapan ini akan menjadi film roman akbar selayaknya Titanic. Jangan pula berharap ini akan menjadi semacam The Great Gatsby dengan visual yang meriah memanjakan mata – menilai dari trailer yang sedikit banyak mirip. Sebagai sebuah kisah percintaan klasik, tatanan penceritaan pun tak jauh-jauh dari hubungan asmara terlarang dari dua muda mudi yang disebabkan oleh berbagai perbedaan; semacam Romeo & Juliet atau Sitti Nurbaya, dalam versi lokal. Dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, jalinan asmara yang mengaitkan Zainuddin Herjunot Ali dan Hayati Pevita Pearce menghadapi jalan buntu lantaran terbentur oleh perbedaan adat dan latar belakang sosial. Nyaris mustahil dua anak manusia ini dipertautkan tali pernikahan, terlebih di tengah-tengah usaha Zainuddin memerjuangkan kehidupan asmaranya, muncul seorang pemuda kaya berdarah Minang, Aziz Reza Rahadian, yang turut meramaikan bursa dengan meminang Hayati. Yang pertama terlontar dari mulut usai melahap Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di layar lebar adalah amboi... betapa eloknya film ini!’. Sunil Soraya yang sebelumnya mengomandoi Apa Artinya Cinta? berhasil membungkam siapapun yang memertanyakan kapabilitasnya dalam mengkreasi ulang karya sastra penting di Indonesia buah karya Hamka ini ke medium layar lebar. Si pembuat film tak sekadar membuat penonton berlinangan air mata secara beramai-ramai akibat jalinan kisah yang mengharu biru serta mengoyak emosi, tetapi juga menyuarakan kembali kritikan sosial, sentilan sentilun, dan pesan bernada reliji dari Hamka yang termasuk dalam poin penting di dalam novel. Inilah yang lantas menjadikan film menjadi kaya pula padat berisi karena tak melulu berujar soal cinta terlarang, namun juga berbincang perihal kondisi sosial, adat dan tradisi di sekitar – dalam hal ini, Minang – yang tersampaikan dengan begitu mengena. Segala puja puji pun patut pula dihaturkan untuk jajaran pemainnya yang mampu berlakon dengan cemerlang. Reza Rahadian seolah tiada menghadapi orangtan berarti kala memerankan sang antagonis yang meredam kebahagiaan Zainuddin dan Hayati. Hanya melalui kehadirannya, nada bicaranya yang menyengat tanpa perlu meletup letup berlebihan, dan sorot mata yang tajam, Aziz terlihat begitu mengintimidasi. Herjunot Ali – yang pada awalnya cenderung disepelekan – memberi performa terbaik dalam karir keaktorannya. Adegan peluapan rasa sakit hati yang menahun dideranya serta perpisahan dengan sang pujaan hati di penghujung film disalurkannya dengan begitu emosional, menyayat hati, dan meyakinkan. Pevita Pearce sebagai Hayati yang lemah tak berdaya dengan pesona kecantikan yang begitu susah untuk ditampik memberi chemistry yang lekat bersama Herjunot dan Reza. Lalu, ada pula kejutan dari Randy, keyboardist Nidji, yang tak dinyana-nyana mampu berolah peran dengan memukau sebagai Muluk, sahabat sejati Zainuddin. Membawakannya secara natural tanpa berlebih-lebihan, Randy dengan mudah mencuri perhatian terlebih tokoh yang dibawakannya sungguh bijak pula humoris. Pun demikian, meski Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck berhasil merebut hati saya dengan mudahnya, bukan berarti tiada yang mengganggu rasa nyaman kala menontonnya. Dalam catatan saya, setidaknya rasa tak nyaman itu bersumber dari pemilihan warna biru untuk Batipuh yang tak sedap untuk dipandang oleh mata, efek visual yang kerapkali masih tampak kasar, dan tembang-tembang dari Nidji yang sekalipun menimbulkan rasa candu namun kemunculan yang kelewat sering tak jarang pula, bukan pada tempatnya terkadang mengganggu. Keputusan untuk tak berlama-lama dengan adegan di atas kapal – termasuk menciptakan ketegangan – pun cukup disayangkan, apalagi mengingat bahwa Soraya telah susah payah membangun set kapal. Hanya selewat, tak meninggalkan kesan. Untungnya, ini hanya berada di barisan minor yang tak berpengaruh signifikan kepada kualitas film secara menyeluruh. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck masih mampu berdiri tegak gagah perkasa berkat kekuatan dari jalinan kisahnya yang terangkai dengan begitu indah, menggugah emosi serta mengharu biru, lakon-lakon yang cantik dari departemen akting, lalu ini pun masih dipadukan dengan sinematografi yang aduhai dan tata produksi yang terbilang megah mewah untuk ukuran film Indonesia. Sungguh mengesankan. Outstanding SynopsisAdapted from the classic novel about a love story between Zainuddin, Hayati, and Aziz. With a background of social differences and life struggles, Zainuddin and Hayati’s true love leads to tragedy during a sailing trip on Van der Wijck’s from the classic novel about a love story between Zainuddin, Hayati, and Aziz. With a background of social differences and life struggles, Zainuddin and Hayati’s true love leads to tragedy during a sailing trip on Van der Wijck’s ship. Tenggelamnya Kapal Van Der WijckPERHATIAN!Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini. Menjadi salah satu film terbaik yang lahir di ranah perfilman Indonesia, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ memang ramai diperbincangkan. Menjadi menarik dengan mengangkat persoalan budaya ditengah masyarakat, dimana budaya menjadi bagian penting untuk menutur tata laku individu yang ada. Diadaptasi dari novel karya Buya Hamka dengan judul yang sama, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ disutradarai oleh Sunil Soraya dan diproduseri Ram Soraya. Film drama romantis tahun 2013 ini juga dilakoni oleh aktor dan aktris kawakan Indonesia. Dirilis tanggal 19 Desember 2013, kabarnya proses produksi film ini menghabiskan waktu 5 tahun. Penggarapan film ini bukan main rupanya, tak heran memang jika film ini banyak di perbincangkan di masyarakat. Makin penasaran kan bagian menarik apa lagi yang bisa ditemukan dari film ini? Sinopsis Berlatar tahun 1930, menceritakan kisah cinta muda-mudi yang terhalang oleh adat istiadat. Berawal dari seorang pemuda bernama Zainuddin Herjunot Ali yang terusir dari tanah kelahiran sang ayah di Batipuh, Padang dengan Hayati Pevita Pearce gadis murni keturunan Minang yang cantik dan santun membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Ayah keturunan Minang dan Ibu keturunan Bugis, membuat Zainuddin dikucilkan di tanah Minang. Cintanya kandas seiring dengan lamarannya yang ditolak oleh keluarga Hayati karena statusnya yang dianggap tak bersuku oleh masyarakat Minang yang matrilineal. Hayati dijodohkan dengan Aziz Reza Rahadian yang memilki status yang sama-sama keturunan bangsawan. Adat Minang menuntut Hayati agar selalu tunduk dan patuh, menikah dengan Aziz dan menjaga nama baik keluarga. Kecewa, Zainuddin sempat hidup terpuruk berlarut dalam kesedihan beruntung sahabatnya Muluk Randy Danistha selalu menemani hingga ia bangkit. Memilih bertolak ke Batavia, Zainuddin berhasil membuka lembar baru menapaki karir yang sukses. Menjadi penulis terkenal dengan karya-karya masyhur, ia dipercaya mengurus perusahaan di Surabaya. Takdir memang punya cerita unik, Zainuddin dan Hayati dipertemukan kembali dalam sebuah Opera. Karir Aziz sebagai pebisnis sukses lah yang membawa ia dan sang istri Hayati datang dan tinggal di Surabaya. Namun rupanya hal ini tak berlangsung lama, bisnis Aziz hancur. Meninggalkan surat cerai untuk Hayati, rupanya Aziz memberikan surat berbeda pada Zainuddin agar ia mau menerima Hayati dan menjadikan Hayati miliknya. Masih terikat sakit hati di masa lalu, Zainuddin memilih mengirim Hayati pulang ke kampung halamannya dengan kapal Van Der Wijck. Menitipkan sepucuk surat kepada Muluk untuk Zainuddin, Hayati pun pergi. Naas, kapal Van Der Wijck yang membawa Hayati pulang tenggelam ditengah perjalanan. Mengetahui ternyata Hayati masih dan selalu mencintainya, Zainuddin bergegas menyusul Hayati. Terlambat, Hayati meninggalkan dirinya dan penyesalannya untuk selama-lamanya. Totalitas Produksi Film yang Patut Diapresiasi * Menjadi film termahal yang di produksi oleh Soraya Intercine Films, projek film ini sudah berlangsung dari tahun 2008. Dari mulai observasi, pra-produksi, penulisan skenario hingga pemilihan pemain yang berjalan 5 tahun membuat Sunil sebagai Sutradara sempat ragu fimnya ini akan rampung, mengingat prosesnya yang begitu voucher streaming Netflix, Disney+, Prime Video, Viu, dll murah di Lazada Riset, pengambilan gambar serta pembuatan latar film seperti tahun 1930 mengikuti novelnya membuat biaya produksi cukup tinggi. Begitu juga dengan pembuatan replika kapal Van Der Wijck yang dibuat ulang oleh produsennya dan dipesan langsung dari Belanda. Belum lagi properti lainnya yang turut di setting seperti suasana tahun 1930, mobil, kostum, sampai figuran orang asing yang mendukung latar cerita. Bahkan untuk kostumnya sendiri dibuat dan dirancang oleh Samuel Wattimena seluruhnya. Proses penulisan skenario ditulis selama 2 tahun dengan revisi beberapa kali oleh sang sutradara. Ini karena Sulin sebagai sutradara ingin filmnya dapat menyampaikan semangat dan pesan yang sama seperti yang disampaikan Hamka dalam Novel. Memiliki durasi 2 jam 49 menit, film ini memakan wakru 6 bulan untuk proses syuting dengan total 300 adegan. Directed by Sunil Soraya Produced by Sunil Soraya, Ram Soraya Written by Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro, Riheam Junianti, Sunil Soraya screenplay, Buya Hamka novel, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Starring Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Randy Nidji, Gesya Shandy, Arzetti Bilbina, Kevin Andrean, Jajang C Noer, Niniek L. Karim, Femmy Prety, Dewi Agustin, Rangga Djoned, Fanny Bauty Music by Stevesmith Music Production Cinematography by Yudi Datau Editing by Sastha Sunu Studio Soraya Intercine Films Running time 163 minutes Country Indonesia Language Indonesian Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck is one of Indonesian movie released in 2013 on the theme of love and cultural conflict in 1930’s. The story begins when a young man of Minang descent who lives and grows in Makassar, Zainuddin Herjunot Ali go to Batipuh, Tanah Datar, West Sumatra, in order to know the birthplace of his father and deepen his religious knowledge. Zainuddin’s arrival was not well received by the villagers because of the history of the Zainuddin’s descendant─whose father comes from Minang marry his mother who comes from Bugis. At that time, the structure of Minang people manages the ancestry from maternal lineage. However, Zainuddin strengthens his heart to remain in Batipuh, especially when he met a beautiful girl named Hayati Pevita Pearce. After that, they fall in love and Zainuddin’s descendant was again being the obstacle of their romance. Zainuddin was forced to leave Batipuh because their relationship deemed unfit. However, Zainuddin and Hayati promised to love each other. The problems get bigger when Hayati proposed by a wealthy man of pure Minang descent, Aziz Reza Rahadian. Forced by her family, Hayati accepts the proposal and breaks her relationship with Zainuddin. Zainuddin chooses to leave Minang island and ventured to Java island after his heart had been broken by Hayati. With his talent as a writer, Zainuddin managed to gain fame as well as material happiness. Meanwhile, the destiny between Zainuddin and Hayati did not necessarily stop. Inadvertently, Zainuddin again met with Hayati who has now become the wife of Aziz. As might be expected, their turbulent love then started burning again. This movie is remarkable because each part of the story is described so smoothly. The characters of this movie successfully deliver a deep emotion to the audience. As usual, Reza Rahadian plays impeccably. When Herjunot Ali and Pearce Pevita still seen trying hard to turn their character, Reza Rahadian appears so easy in the figure of Aziz. Pevita Pearce also successfully demonstrated with good acting skills. Although the character of Hayati still feels not so ripe, Pevita capable of displaying the figure of the girl who lived in the 1930’s with the problem of conflict between tradition and her romance with a performance that will be able heartbreaking. However, the strongest performance in Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck clearly comes from Herjunot Ali. Herjunot managed to give a pretty deep emotional touch to his character, reciting poetic dialogues given to his character well and makes the character Zainuddin was so easy to get the sympathy from the audience. Other acting appearances were quite a surprise present from Randy Nidji who recently made his acting debut through, but managed to give the appearance that is so convincing. I recommend this movie because of its epic classy romance which is so hard to find in Indonesian’s movie in recent years. I give four stars to this movie. You have to watch this!

review film tenggelamnya kapal van der wijck