resensi novel hafalan shalat delisa
ResensiNovel : Novel ini menceritakan Delisa seorang gadis berumur 6 tahun yang tinggal di Lhok-Nga Aceh bersama Ummi Salamah, kak Fatimah, kak Zahra dan kak Aisyah. Sedangkan Abi Usman jarang berada dirumah karena ada pekerjaan yang mengharuskan abi Usman pergi dari satu kota ke kota yang lainnya.
Delisanmampu melakukan Sholat Asharnya dengan sempurna untuk pertama kalinya, tanpa ada yang terlupa dan terbalik. hafalan sholat karena Allah. dan hadiah itu datang pada Delisa, Delisa menemukan kalung D untuk Delisa dalam genggaman jasad Umminya. Sesudah 3 bulan lebih. Delisa tetap teringat dengan orang-orang terdekatnya.
SinopsisNovel ini menceritakan seorang anak perempuan berumur enam tahun yang bernama Delisa. Delisa adalah seorang anak yang lugu, polos, dan suka bertanya. Ia anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarganya, kakak-kakaknya bernama Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Mereka berdomisili di Aceh, tepatnya di Lhok Nga.
Tanganmanusia yang sudah tinggal tulang itu tidak lain adalah milik Ummi Delisa. Delisa sangat terkejut. 6. Unsur-Unsur Intrinsik A. Tokoh dan Penokohan 1. Delisa : Pemalas, manja, baik, dan suka memberi "Kak Fatimah ganggu saja Delisa masih ngantuk!" Delisa bandel menarik bantak. Ditaruh di atas kepala. Malas mendengar suara tertawa Kak Fatimah.
ResensiNovel Hafalan Shalat Delisa. Ruang Resensi | Ahad, 26 Desember 2004 menjadi hari yang tak pernah terlupakan bagi rakyat Indonesia. Khususnya, orang-orang yang tinggal di Nanggroe Aceh Darussalam. Makhluk asing bernama tsunami tiba-tiba datang menjamah dataran bumi yang konon bergelar Serambi Mekkah itu. Kubik-kubik air laut yang tak
Süddeutsche Zeitung München Heirat Und Bekanntschaften. Suka covernya yang ini ❤️❤️ Judul Buku HAFALAN SHALAT DELISA Penulis Tere Liye Penerbit Republika Penerbit Tahun Terbit Cetakan I, November 2005. Cetakan XXXI, Maret 2018 Jumlah Halaman 266 Halaman Salah satu buku dengan rating tertinggi di 4 dari 5 bintang. Novel tentang bacaan shalat anak 6 tahun denga latar bencana Tsunami ini sangat mengharukan. Nilai keikhlasan dengan halus di jalin pengarangnya ke dalam plot cerita dunia kanak-kanak ini. Saya membacanya dengan rasa sentimental, karena selepas tsunami saya pernah bolak balik ke Lhok Nga itu.” —Taufik Ismail, Penyair “Buku yang indah dan ditulis dalam kesadaran ibadah. Buku ini mengajak kita mencintai kehidupan, juga kematian, mencintai anugerah juga musibah, dan mencintai indhanya hidayah.” —Habiburrahman El Shirazy. Novelis/Penulis best seller ayat-ayat cinta Novel ini disajikan dengan gaya sederhana,namun sangat menyentuh. Penulis berhasil menghadirkan tokoh-tokoh dan suasana dengan begitu hidup, Islami dan Luar biasa. Pantas dibaca oleh siapa saja yang ingin mendapatkan pencerahan rohani.” —Ahmadun Yosi Herfanda. Sastrawan dan Redaktur Sastra Republika Dramatis tanpa perlu hiperbolic. Menyentuh tanpa perlu mengaharu-biru. Kecerdasan dalam kepolosan. Terkadang malu sendiri ketika menyimak si mungil Delisa. Seolah menonton film dokumenter ketika membacanya lembar demi lembar. Two thumbs up!” —Azzar Kuntoazi. Fotogafer, Pembaca pertama novel ini; penikmat sastra. Hafalan Salat Delisa, adalah buku pertama yang saya baca dari karya-karyanya Tere Liye dengan cover buku yang awal, pinjaman dari seorang sahabat. Sehingga awalnya saya kira Tere Liye itu penulis religi. Saya mulai baca buku Tere Liye tahun 2010 *duh ketinggalan, padahal bukunya sudah terbit tahun 2005* 😂 Terima kasih untuk sahabat saya, yang sudah memperkenalkan saya dengan karya Tere Liye. Baca juga Resensi buku Komet Minor, Komet, serta Ceros dan Batozar karya Tere Liye Dari buku ini kemudian buku-buku berikutnya yang berbeda, pada akhirnya kini saya tahu bahwa tulisan Tere Liye itu tidak melulu tentang religi, banyak mengangkat tema tentang hal umum, tapi hebatnya Tere Liye itu buku-bukunya gak berat. Sederhana, namun selalu memberikan nasihat dan pesan-pesan yang bagus. Dan terkadang, bagi saya pribadi, hal sederhana itu bisa terasa istimewa. Terbukti sudah puluhan karya yang dihasilkan oleh Tere Liye, tapi saya belum bosen malah selalu menunggu karya-karya berikutnya 😁 Bahkan, sambil menunggu karya berikutnya, terkadang saya juga baca lagi buku yang sudah saya baca. Berhubung belum review buku ini, saya pun akan menuliskan reviewnya. Btw, saya lebih suka cover yang tahun 2018 ini 😊 Baca resensi buku Si Anak Badai Delisa anak perempuan yang bermata hijau, bening dan umurnya baru mencecah lima tahun. Dia hidup dalam keluarganya yang sebegitu, dia cuba menghafal bacaan dalam solat dengan bantuan ibu dan Namun Tuhan lebih tahu apa yang lebih baik untuk hamba-Nya. Tsunami datang melumatkan senyuman pada wajah Delisa. Tsunami mengambil segala-galanya, keluarga juga kaki kecilnya. Yang tersisa, hanya dia dan ayahnya, dan dalam keadaan sebegitu apakah Delisa mampu tetap tersenyum seperti dahulu dan menyudahkan hafalannya? Alisa Delisa adalah seorang gadis kecil yang ingin menghafal hafalan shalat untuk ujian praktek yang akan dilakukannya didepan kelas. Awalnya dia sangat bersemangat menghafal karena Ummi Salamah membeli kalung emas serta sepedah dari Abi sebagai jaminan kelulusan ujian praktek Delisa. Tapi malangnya bencana tsunami melanda ketika dia menghafal didepan kelas, hal itu membuat Delisa harus kehilangan keluarganya, kehilangan satu kakinya. Namun dia tetap tegar menerimanaya, ia besyukur masih memiliki Abi Usman, cobaan ini membuat Delisa belajar memahami arti keikhlasan, ikhlas menghafal bacaan shalat hanya karena Allah Swt semata,bukan untuk mendapat hadiah dari Ummi dan Abi. Baca review Anak Rantau karya A. Fuadi Moral of the story, pesan dalam novel ini Setiap permasalahan pasti ada jalannya. Jangan menyerah dengan keadaan, tetap bertahan, berjuang, dan tegar untuk menghadapi segala ujian. Bersyukur dan tetap ikhlas atas segala pemberian ALLAH SWT. Novel Tere Liye ini benar-benar mengharukan 😂 Novel ini sangat bagus untuk dibaca semua kalangan, baik anak-anak maupun remaja bahkan orang tua sekalipun. Pesan yang tersirat memberikan banyak inspirasi bagi para pembacanya. Isinya penuh dengan perenungan bagi siapa saja yang khusyu’ mengkhayati alur cerita ini, isi cerita dibalut dengan suasana tegang, haru, serta menonjolkan keharmonisan keluarga berbalut islami ditengah pulau Lhok Ngah,Aceh yang menjadi setting tempat untuk novel ini. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga mudah dipahami, penulis menyajikan imajinasi untuk para pembaca mengenai alur dan setting cerita tersebut mengenai tsunami di Aceh tanggal 26 Desember tahun 2004 dan kehidupan usai dilanda bencana menggetarkan dunia tersebut. Novel Hafalan shalat Delisa ini, sudah difilmkan pada tanggal 22 Desember 2011. Dan ini novel pertama Tere Liye yang diangkat ke layar lebar. Meskipun filmnya sudah sering diputar di TV, tapi saya malah belum pernah nonton filmnya sampai habis 😁 Baca review Sunset bersama Rosie karya Tere Liye Saya sangat berterimakasih sekali kepada sahabat saya, dan saya akan selalu ingat perkenalan pertama saya dengan karya Tere Liye, yaitu lewat buku ini. Buku ini telah memikat hati saya dalam arti untuk terus mengikuti dan membaca karya-karya penulisnya. Buku ini recommended banget! Rating saya 5/5. Saya pernah menulis email ke Tere Liye, alhamdulillah dibalas oleh beliau. Salah satu yang beliau sampikan ke saya “Pinjamkan koleksimu ke teman-temanmu.” Nah berhubung gak semua teman saya suka baca, atau bahkan selera bacanya berbeda dengan saya, maka cara saya meminjamkan koleksi saya yaitu dengan mereview buku 😊 Kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Hafalan Solat Delisa Memuji itu mudah sekali dilakukan, dan orang yang menerimanya akan riang. Jadi kenapa orang-orang tidak saling memuji dengan tulus saja? halaman 57. Raut dan bentuk kesedihan sama di seluruh dunia. Universal! Kesedihan tidak memerlukan perantara bahasa. halaman 105 Jangan pernah lihat hadiah dari bentuknya. Lihatlah dari niatnya. InsyaAllah hadiahnya terasa lebih indah hal. 216 Orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya. Hatinya tidak ikhlas, hatinya jauh dari ketulusan hal. 245 Cukuplah percaya dengan satu janji-Mu. Maka kehidupan di dunia ini akan terasa jauh lebih indah. Semuanya akan terasa jauh kebih indah. Yakinlah! hal. 262 “Marah dan menangis itu satu jenis. Kalian akan menangis jika saking marahnya. Menangis itu juga satu jenis dengan senang. Kalian akan menangis jika saking senangnya. Dan tentu saja menangis itu benar-benar satu jenis dengan sedih.” Kita belajar shalat itu hadiahnya ngga sebanding dengan kalung, hadiahnya sebanding dengan surga.” “Muslim yang baik selalu bisa menghargai waktu.” Sungguh saudara-saudara kita akan menjadi tameng api neraka, maka berbuat baiklah kepada mereka. Sungguh adik-kakak kita akan menjadi perisai cambuk malaikat, maka berbuat baiklah kepada mereka. Sungguh saudara-saudara kita akan menjadi penghalang siksa dan azab himpitan liang kubur, maka berbuat baiklah kepada mereka.” Hal yang membuat saya selalu tertarik dan tidak bosan membaca buku-buku karya Tere Liye, salah satunya Tere Liye menyajikan buku dengan banyak genre. Dari puluhan buku yang sudah ditulisanya, berikut ini buku-buku Tere Liye yang sudah saya baca dan review NOVEL GENRE ANAK-ANAK & KELUARGA Hafalan Solat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-Bidadari Surga recover dan retitle mrnjadi Dia adalah Kakakku, Eliana, recover dan retitle menjadi Si Anak Pemberani, Burlian, recover dan retitle menjadi Si Anak Spesial, Pukat, recover dan retitle menjadi Si Anak Pintar, Amelia,recover dan retitle menjadi Si Anak Kuat, Si Anak Cahaya Si Anak Badai, Si Anak Pelangi GENRE ROMANCE Cintaku Antara Jakarta Kuala Lumpur The Gogons James and Incridible Incident Berjuta Rasanya, Sepotong Hati Yang Baru, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Sunset Bersama Rosie, recover dan retitle menjadi Sunset dan Rosie, Aku Kau dan Sepucuk Angpau Merah, GENRE FANTASY Ayahku Bukan Pembohong, Sang Pengintai, recover dan retitle menjadi Harga Sebuah Percaya, Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceros & Batozar Komet Komet Minor Selena Nebula Si Putih Lumpu GENRE POLITIK & EKONOMI Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk. GENRE ACTION Pulang Pergi Pulang Pergi Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup Hujan Genre Biografi tapi tidak pure lebih banyak unsur refleksi Rembulan Tenggelam di Wajahmu KUMPULAN PUISI Dikatakan atau Tidak Dikatakan Itu Tetap Cinta Sungguh, Kau Boleh Pergi KUMPULAN QUOTE About friends About Love About Life GENRE SEJARAH RINDU GENRE BIOGRAFI TENTANG KAMU Buku Cerita Anak Bergambar versi Bahasa Indonesia yang sudah terbit bukunya Toki si Kelinci Bertopi Suku Penunggang Layang-Layang BUKU TERE LIYE Yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris EARTH MOON SUN Buku-Buku Serial Karya Tere Liye Buku Serial BUMI BUKU SERIAL ANAK-ANAK MAMAK, recover dan retitle menjadi Buku Serial ANAK NUSANTARA Buku SERIAL AKSI Buku SERIAL CERITA ANAK BERGAMBAR Ebook yang sudah baca di Google Play Book The Gogons 1 James and Incridible Incidents The Gogons 2 Dito and The Prison of Love unedited version Selena unedited version Nebula unedited version Si Putih unedited version Lumpu unedited version Si Anak Pelangi unedited version Gnalup Pergi unedited version Selamat Tinggal unedited version Jengki A Thrilling Night The Golden Apple The Tribe of Kite Riders Hatrab The Rabbit With The Hat When everything Took a Turn for the Worse The Conference of the Bottle Tops Janji unedited version Baca juga 5 Cara membaca buku tanpa harus membeli buku Hal-hal menarik dari buku serial Bumi Buku bajakan rugikan diri sendiri dan banyak pihak 50 judul lebih, buku karya Tere Liye Baca juga Buku-buku yang saya baca di tahun 2020 10 buku non fiksi favoritku di tahun 2020 9 buku fiksi favoritku di tahun 2020 Buku bajakan rugikan diri sendiri serta banyak pihak Happy reading!
September 21, 2022 423 am . 6 min read Resensi Novel Hafalan Shalat Delisa ini menceritakan seluk beluk dari novel tersebut secara lengkap. Baik dari instrinsik, ekstrinsik dan sinopsis novel. Bukan hanya itu artikel ini juga akan membahas pula kelebihan dan kekurangan dari novel hafalan Shalat Delisa tersebut. Hal tersebut bertujuan agar kamu bisa menentukan sikap untuk membeli atau tidak novel tersebut. Dan sebagus apa novel ini jika di jadikan bacaan novel sehari-harimu di rumah. Resensi Novel Hafalan Shalat Delisa Berikut merupakan resensi novel Hafalan Shalat Delisa secara lengkap, diantaranya adalah 1. Identitas Novel Hafalan Shalat Delisa Judul NovelHafalan Shalat DelisaPenulisTere LiyeJumlah halaman266 halamanUkuran buku20,5× cmPenerbitRepublika PenerbitKategorinovelTahun Terbit2008 2. Sinopsis Novel Hafalan Shalat Delisa Novel ini mengisahkan seorang anak gadis kecil berusia 6 tahun yang merupakan anak bungsu dalam keluarganya. Dan ia bernama Delisa. Delisa memiliki tiga kakak perempuan bernama Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Keluarga yang sangat harmonis itu adalah keluarga Ummi Salamah dan Abi Usman. Sudah menjadi tradisi bahwa di kampung mereka semua anak haru menghafal bacaan shalat. Seperti halnya yang dilakukan oleh Delisa ia juga sedang khusyu menghafal bacaan shalatnya yang hampir sempurna. Namun, ada sesuatu hal yang membuat semuanya berubah. Yaitu sebuah bencana tsunami yang meluluh lantahkan tempat tersebut. Lalu bagaimana keadaan keluarga harmonis tersebut? Apakah selamat? Jawabannya hanya ada di novel tersebut. 3. Kelebihan Novel Hafalan Shalat Delisa Berikut merupakan kelebihan dari novel Hafalan Shalat Delisa, diantaranya adalah Novel ini sangat menarik dan bacaannya mudah di kata yang sederhana namun sangat banyak sekali nilai religius dan nilai sosial yang kental. Seperti keluarga yang harmonis, saling menolong, dan bertetangga dengan yang sangat inspiratif sehingga cocok untuk di baca oleh semua jenis usia. 4. Kekurangan Novel Hafalan Shalat Delisa Sama halnya dengan novel lainnya bahwa novel ini pun memiliki kekurangan, diantaranya adalah Tidak adanya daftar isi sehingga jika ingin membaca harus dimulai dari awal. Dan jika lupa harus di beri tanda di ada kata pengantar serta sinopsis sehingga menyulitkan kita untuk mengetahui isi novel ini secara singkat. 5. Unsur Intrinsik Novel Hafalan Shalat Delisa Berikut merupakan unsur intrinsik dari novel Hafalan Shalat Delisa, diantaranya adalah Tema Tema dalam novel ini adalah tentang perjuangan seorang anak berumur 6 tahun dalam menghafal hafalan shalat. Serta keikhlasan dan ketegarannya dalam menghadapi segala cobaan yang menimpanya. Tokoh dan penokohan Delisa dia adalah sosok gadis yang pemalas, manja, baik, suka memberi dan pantang menyerah. Sifatnya tersebut karena ia merupakan anak bungsu. Sehingga para kakak dan orang tuanya sangat sayang Salamah, dia adalah sosok ibu yang sangat baik, bijaksana, dalam kehidupan berkeluarganya. Dan ia selalu memberikan contoh baik terhadap ke 4 putrinya dengan selalu melakukan shalat berjama’ ia merupakan kakak sulung Delisa yang sangat baik dan perhatian terhadap ia adalah kakak Delisa yang ke tiga yang memiliki sifat usil, baik hati, dan juga suka iri dia adalah kakak Delisa yang ke dua yang memiliki sifat pendiam dan Usman, ia memiliki sifat yang baik dan ia adalah teman Delisa yang memiliki sifat jahil, usil, nakal dan sifatnya perhatian dan baik Cik Acan, penolong baik dan suka Adam, Baik dan suka Rahman, ia tawakal, sabar, pengertian, dan baik hati. Alur Alur yang digunakan dalam novel ini yaitu menggunakan alur campuran. Yang mana didalamnya terdapat alur maju dan alur mundur. Latar Waktu Latar waktu yang terjadi dalam novel ini adalah pagi, siang, sore dan malam hari. Latar Tempat Latar tempat yang terjadi dalam novel ini adalah pesisir pantai Lhok Nga, Rumah Sakit Kapal Induk, Kamar Rawat, dan Hutan. Sudut Pandang Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah menggunakan sudut pandang orang ketiga. Hal ini dibuktikan oleh penulis yang selalu menyebut nama tokoh pemeran dalam novel tersebut. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini menggunakan bahasa sehari-hari. sehingga isi novel ini sangat mudah untuk di pahami. Selain itu di tambah beberapa majas seperti personifikasi, hiperbola, dan majas metafora. Amanat Amanat yang terdapat dalam novel Hafalan Shalat Delisa ini diantaranya adalah Novel ini mengajarkan kita bahwa bersabarlah ketika menerima permasalahan. Karena setiap permasalahan pasti ada jalan menyerah terhadap keadaan. Tetaplah berjuang, bertahan dan tegar menghadapi segala atas apa yang telah Allah berikan kepada kita tetap ikhlas dalam menghadapi semua ketetapan darinya. Niscaya kamu akan menjadi orang-orang yang beruntung. 6. Unsur Ekstrinsik Novel Hafalan Shalat Delisa Berikut merupakan unsur ekstrinsik dari novel Hafalan Shalat Delisa, diantaranya adalah Latar Belakang Penulis Tere Liye merupakan nama pena dari penulis berbakat tanah air. Tere Liye sendiri di ambil dari bahasa India yang memiliki arti milikmu. Tere Liye lahir di Lahat 21 mei 1979 dari keluarga sederhana. Dikenal sebagai penulis yang karyanya beberapa sudah di angkat ke pertelevisian Indonesia. Menulis adalah hobinya dan dia masih aktif kerja kantoran sebagai akuntan. Nilai Sosial Nilai sosial yang terdapat dalam novel ini adalah saat mereka terkena bencana mereka saling membantu dan memberikan yang terbaik kepada yang paling membutuhkan. Nilai sosial lainnya bagaimana kasih sayang seorang ibu yang mendidik ke empat anaknya dengan rasa sayang dan penuh kasih itu merupakan sosial yang patut di contoh. Nilai Moral Nilai moral yang terdapat dalam novel Hafalan Shalat Delisa ini adalah mengenai kebiasaan masyarakat di daerah tersebut, yang sangat sopan, juga sangat mengutamakan nilai-nilai agama dan budaya islam. Nilai Agama Nilai agama yang terdapat dalam novel ini sangatlah kuat. Dimana kita bisa melihat bahwa setiap anak yang terdapat dalam lingkungan tersebut di wajibkan untuk hapal bacaan shalat. Tidak terkecuali keluarga ibu Salamah si bungsu pun sedang menjalani hafalan shalat seperti yang pernah dilakukan oleh kakak-kakaknya dahulu. Nilai Budaya Ini adalah budaya dari keluarga Ummi Salamah dimana anak yang sudah menghafal bacaan shalat maka akan dihadiahi sebuah kalung sesuai dengan inisial nama anak tersebut. 7. Pesan Moral Novel Hafalan Shalat Delisa Bagian terakhir dari resensi novel Hafalan Shalat Delisa adalah pesan moral yang terkandung dalam novel tersebut. Dan pesan moralnya adalah sebagai berikut Sebagai makhluk ciptaan-Nya kita senantiasa selalu bersyukur dan berterimakasih atas untuk ikhlas menerima apapun yang terjadi dalam maju dan pantang menyerah dalam menjalani keluargamu seperti mereka menginginkan sesuatu teruslah berusaha agar semua citamu tercapai.
RESENSI NOVEL “HAFALAN SHOLAT DELISA” Identitas Buku o Judul Hafalan Shalat Delisa o Penulis Tere Liye o Sutradara Sony Gaoksak o Produser Chand Parwez Servia o Desain cover Eja-creative4 o Penerbit Republika Penerbit o Tempat terbit Jakarta o Tahun terbit 2008 o Halaman 266 halaman o Ukuran 20,5 x 13,5 cm o Harga Rp. Sinopsis Novel ini menceritakan seorang anak perempuan berumur enam tahun yang bernama Delisa. Delisa adalah seorang anak yang lugu, polos, dan suka bertanya. Ia anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarganya. Delisa tinngal bersama Umminya yang bernama Salamah dan kakak-kakaknya bernama Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Mereka berdomisi di Aceh, tepatnya di Lhok Nga. Ayahnya yang biasa dipanggil Abi bernama Usman, beliau bekerja di kapal tanker dan baru pulang setiap 3 bulan sekali. Delisa mendapatkan tugas dari Ibu Guru Nur, yakni tugas menghafal bacaan sholat yang akan disetorkan pada hari minggu tanggal 26 Desember 2004. Motivasi dari Ummi yang berjanji akan memberikan hadiah jika ia berhasil menghafalkan bacaan sholat membuat semangat Delisa untuk menghafal. Ummi telah menyiapkan hadiah kalung emas dua gram berliontin D untuk Delisa, sedangkan Abi akan membelikan sepeda untuk hafalan sholatnya jikalau lulus. Pagi itu hari minggu tanggal 24 Desember 2004, Delisa mempraktikkan hafalan sholatnya di depan kelas. Tiba-tiba Gempa bumi berkekuatan 8,9 SR yang disertai tsunami melanda bumi Aceh. Seketika keadaan berubah. Ketakutan dan kecemasan menerpa setiap jiwa saat itu. Namun, Delisa tetap melanjutkan hafalan sholatnya. Ketika hendak sujud yang pertama, air itu telah menghanyutkan semua yang ada, menghempaskan Delisa. Shalat Delisa belum sempurna. Delisa kehilangan Ummi dan kakak-kakaknya. Enam hari Delisa tergolek antara sadar dan tidak. Ketika tubuhnya ditemukan oleh prajurit Smith yang kemudian menjadi mu’alaf dan berganti nama menjadi prajurit Salam. Bahkan pancaran cahaya Delisa telah mampu memberikan hidayah pada Smith untuk bermu’alaf. Beberapa waktu lamanya Delisa tidak sadarkan diri, keadaannya tidak kunjung membaik juga tidak sebaliknya. Sampai ketika seorang ibu yang di rawat sebelahnya melakukan sholat tahajud, pada bacaan sholat dimana hari itu hafalan shalat Delisa terputus, kesadaran dan kesehatan Delisa terbangun. Kaki Delisa harus diamputasi. Delisa menerima tanpa mengeluh. Luka jahitan dan lebam disekujur tubuhnya tidak membuatnya berputus asa. Bahkan kondisi ini telah membawa ke pertemuan dengan Abinya. Pertemuan yang mengharukan. Abi tidak menyangka Delisa lebih kuat menerima semuanya. Menerima takdir yang telah digariskan oleh Allah. Beberapa bulan setelah kejadian tsunami yang melanda Lhok Nga, Delisa sudah bisa menerima keadaan itu. Ia memulai kembali kehidupan dari awal bersama abinya. Hidup di barak pengungsian yang didirikan sukarelawan lokal maupun asing. Hidup dengan orang-orang yang senasib, mereka korban tsunami yang kehilangan keluarga, sahabat, teman dan orang-orang terdekat. Beberapa bulan kemudian, Delisa mulai masuk sekolah kembali. Sekolah yang dibuka oleh tenaga sukarelawan. Delisa ingin menghafal bacaan sholatnya. Akan tetapi susah, tampak lebih rumit dari sebelumnya. Delisa benar-benar lupa, tidak bisa mengingatnya. Lupa juga akan kalung berliontin D untuk delisa, lupa akan sepeda yang di janjikan abi. Delisa hanya ingin menghafal bacaan sholatnya. Akhir dari novel ini, Delisa mendapatkan kembali hafalan sholatnya. Sebelumnya malam itu Delisa bermimpi bertemu dengan umminya, yang menunjukkan kalung itu dan permintaan untuk menyelesaikan tugas menghafal bacaan sholatnya. Kekuatan itu telah membawa Delisa pada kemudahan menghafalnya. Delisa telah mampu melakukan Shalat Asharnya dengan sempurna untuk pertama kalinya, tanpa ada yang terlupa dan terbalik. Hafalan sholat karena Allah, bukan karena sebatang coklat, sebuah kalung, ataupun sepeda. Selesai shalat Ashar, Delisa pergi mencuci tangan di tepian sungai, Delisa melihat ada pantulan cahaya matahari sore dari semak belukar, cahaya itu menarik perhatian Delisa untuk mendekat. Mendadak hati Delisa bergetar. Delisa berkata “bukankah itu seuntai kalung?” ternyata Delisa benar benda itu adalah kalung berinisial D untuk Delisa dalam genggaman tangan manusia yang sudah tinggal tulang. Tangan manusia yang sudah tinggal tulang itu tidak lain adalah milik Ummi Delisa. Delisa sangat terkejut. Unsur-Unsur Intrinsik ü Tema Novel Hafalan Shalat Delisa bertema Sosial dan Agama ketegaran seorang anak dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT. ü Penokohan Tokoh-tokoh dalam novel Hafalan Shalat Delisha yaitu Delisa Pantang menyerah, baik, penyayang, manja Badannya terus terseret . Ya Allah Delisa ditengah sadar dan tidaknya ingin sujud… Ya Allah Delisa ingin sujud dengan sempurna. Delisa sekarang hafal bacaannya… Delisa tidak lupa seperti tadi Subuh Hafalan Shalat Delisa, hal 71 Ummi Salamah Rendah hati, sabar, perhatian, bijaksana “Kamu kenapa sayang ?” “Kamu sakit ?” Hafalan Shalat Delisa, hal 27 Kak Fatimah Sabar, tegas “Delisa bangun sayang…… Shubuh!” Hafalan Shalat Delisa, hal 2 Kak Aisyah Keras kepala, egois, iri hati, usil,baik “Makanya kamu cepetan menghafal bacaannya…. Bikin repot saja! Hafalan Shalat Delisha, hal 8 Kak Zahra Pendiam, baik, sabar. “Iya! Tapi kamu nyarikannya bias sedikit lebih pelan ? Nggak mesti merusak lipatan pakaian yang lainkan ?” Hafalan Shalat Delisa, hal 49 Abi Usman Pengertian, baik, sabar, perhatian. “Bagaimana sayang, apakah Delisa sudah merasa baikan?” Hafalan Shalat Delisa, hal 226 Ustadz Rahman Pengertian, baik, sabar. “Biar gak kebolak-balik kamu hafalnya berkali-kali… Baca berkali-kali… Nanti nggak lagi! Nanti pasti terbiasa.” Hafalan Shalat Delisa, hal 38 Umam Jahil, usil, nakal, dan pemurung Tiur Baik dan pengertian. Pak Cik Acan Baik, suka menolong dan suka memberi. Shopie Baik dan penyayang serta pengertian. Smith Adam Baik, penyayang dan suka menolong. ü Latar Latar tempat Lhoknga Menggetarkan langit-langit Lhoknga yang masih gelap Hafalan Shalat Delisa, hal 1 Kamar Rawat Shopie melangkah keluar kamar, entah mengambil apa Hafalan Shalat Delisa, hal 132 Hutan Sersan Ahmed berlari menuju semak belukar tersebut Hafalan Shalat Delisa, hal 109 Tenda Darurat Delisa menatap tenda-tenda yang berjejer rapi tersebut Hafalan Shalat Delisa, hal 156 Latar waktu Pagi Hari Adzan Subuh dari meunasah terdengar syahdu Hafalan Shalat Delisa, hal 1 Siang Hari Saat siang menjelang, matahari terik memanggang tubuhnya Hafalan Shalat Delisa, hal 92 Sore Hari Matahari bergerak menghujam bumi begitu rendah Hafalan Shalat Delisa, hal 46 Dini Hari Malam ketiga ketika Delisa terbaring tak berdaya. Pukul Hafalan Shalat Delisa, hal 112 Latar suasana Ramai Pasar Lhoknga ramai sekali. Hari Ahad begini. Semua seperti sibuk berbelanja. Hafalan Shalat Delisa, hal 19 Senang “ Delisa boleh pilih kalungnya sendiri kan ? Seperti punya Kak Zahra, punya Kak Fatimah atau seperti punya Kak Aisyah !” Hafalan Shalat Delisa, hal 17 Sedih Sungguh semua hancur. Sungguh semuanya musnah. Ya Allah kami belum pernah melihat kehancuran seperti ini. Kota ini tak tersisa, kota ini luluh lantak hanya meninggalkan berbilang kubah mesjid, kota itu menjadi cokelat, kota ini tak berpenguni lagi. Kota ini! Kota itu! Hafalan Shalat Delisha, hal 81 ü Alur Maju – mundur – maju campuran Alur dari cerita ini yaitu maju, mundur, maju campuran karena pada novel ini digambarkan bahwa Delisa mengenang masa-masa saat sebelum keluarganya meninggal karena bencana Tsunami. “Ummi? Delisa tiba-tiba ingat Ummi. Ya Allah dimana Ummi. Kepala Delisa berputar mencari. Di mana pula Kak Fatimah? Kak Zahra? Kak Aisyah? Di mana mereka? “ Pelan kenangan itu kembali. Lambat Delisa mengingat kejadian enam hari lalu. Delisa sama sekali tidak pernah tahu, hamper seminggu ia sudah terjerambab di atas semak-belukar tersebut. Sekolah! Ia di sekolah pagi hari itu. Ia bukankah sedang menghadap Ibu Guru Nur menghafal bacaan shalat. Hafalan Shalat Delisa, hal 93 ü Sudut Pandang Orang ketiga serba tahu Hal ini dibuktikan oleh pengarang yang selalu menyebut nama tokoh-tokoh pemeran dalam dalam novel tersebut, dimana seakan-akan pengarang begitu mengerti perasaan yang dialami tokoh dalam cerita. ü Gaya Bahasa Gaya Hiperbola “Ya Allah.. Kalimat itu membuat hatinya meleleh seketika” Hafalan Shalat Delisa, hal 53 Gaya Personifikasi “Gelombang tsunami sudah menghantam bibir pantai” Hafalan Shalat Delisa, hal 70 Gaya Metafora “Pohon-pohon bertumbangan bagai kecambang tauge yang akarnya lemah menunjang” Hafalan Shalat Delisa, hal 70 ü Amanat Jangan pernah putus asa dan tetap semangatlah menjalani hidup ini. Sayangilah Keluargamu seperti mereka menyayangimu. Jika kamu menginginkan sesuatu, teruslah berusaha agar tercapai. Unsur-Unsur Ekstrinsik ü Nilai Moral Disini terdapat nilai-nilai moral yang sangat kental. Kita dapat menganalisi dari keadaan social dan kegiatan masyarakat di daerah tersebut, sangat sopan dan juga sangat mengutamakan nilai-nilai agama dan budaya islam. ü Agama Dalam novel ini nilai agama yang terkandung sangatlah kuat, karena semua anak-anak Ummi Salamah diwajibkan menghafal bacaan shalatnya dan diwajibkan untuk shalat sesuai waktunya. Semua anak Ummi Salamah belajar mengaji di TPA bersama Ustadz Rahman. ü Budaya Ketika semua anak Ummi Salamah lulus hafalan membaca shalatnya maka sebagai hadiahnya, Ummi membelikan sebuah kalung. Hafalan Shalat Delisa, hal 17 ü Nilai Sosial Terbukti bahwa nilai sosialnya sangat mendalam, sebagai contoh kebersamaan seorang ibu yang menyayangi ke 4 anaknya dengan sabar. Walau dalam keluarganya tersebut tidak hadirnya seorang ayah. Contoh lainnya “ CARI TERUS! KUMPULKAN MAYAT SEBANYAK MUNGKIN! PERIKSA SELURUH TEMPAT!” Hafalan Shalat Delisa, hal 101 Struktur Novel 1. Pendahuluan Peristiwa Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 menjadi inspirasi bagi Tere Liye untuk mengangkat kisah hidup seorang anak yang sabar dan tabah. Kisah anak tersebut membuat banyak orang tersentuh dan terinspirasi dari novel ini. 2. Evaluasi Cerita ini berawal dari seorang anak berusia 6 tahun bernama Delisa, yang hidup bersama Ummi Salamah dan ketiga kakak-kakaknya, yaitu, Cut Fatimah siswa kelas 1 Madrasah Aliyah, si kembar Cut Aisyah dan Cut Zahra yang duduk dikelas 1 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Lhok Nga. Sementara Abinya, Usman bekerja di tanker perusahaan minyak Internasional, yang pulang setiap 3 bulan sekali untuk menemui keluarganya. Mereka tinggal bersama dikomplek perumahan sederhana dipinggir pesisir pantai Lhok Nga, Aceh. Keluarga Abi Usman memang bahagia, memiliki empat anak shaleh dengan karakter yang berbeda, dengan sifat Delisa yang manja dan baik hati, Aisyah yang irihati dan egois, Fatimah yang bijaksana, Zahra yang pendiam, menciptakan suasana keributan-keributan kecil pada keluarga itu. Kehidupan mereka berkecukupan. Bertetanggan yang baik dan bersahaja. Apa adanya. Suatu hari Ummi dan Delisa pergi ke pasar Lhok Nga untuk membeli kalung emas 2 gram ditoko Koh Acan sebagai hadiah ujian praktek hafalan shalat yang akan dilakukan Delisa untuk di setorkan kepada Bu Guru Nur. Abi juga akan memberikan hadiah berupa sepedah untuk Delisa, hal itu membuat Delisa semakin bersemangat menghafal lafadz bacaan shalatnya. Pagi, 26 Desember 2004 itu Delisa akan melaksanakan ujian praktek hafalan shalatnya. Dengan raut wajah tegang, memucat, Delisa mengangkat tangan kecilnya yang gemetar, namun mantap hatinya berkata Delisa akan khusyu’. Allaahu-akbar’ lantai laut retak seketika. Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Vas bunga pecah menggores lengan Delisa. Gelombang itu bergetar menyapu Banda Aceh. Namun sedetik berikutnya sejuta air membuncah keluar, desiran dahsyat ombak menggulung pesisir komplek Lhok Nga, anehnya Delisa tetap khusyu’ membaca lafadz shalatnya. Gelombang itu menghantam tubuh Delisa keras-keras, terpelanting jauh menghantam tembok. Entah kemana Delisa terbawa deru ombak. Selama 6 hari Delisa tak sadarkan diri, dia ditemukan dengan keadaan yang sangat menyedihkan, mirip seperti mayat. Kini Delisa dirawat dirumah sakit, tak lagi terbaring disemak-semak belukar, tak lagi meminum air hujan, tak lagi kepanasan terkena sinar mentari. Delisa dirawat dengan banyak selang ditubuhnya, kepalanya dipangkas dengan banyak luka jahitan, lebih dari dua puluh jahitan ditemukan disekujur tubuhnya, serta kaki yang telah membusuk terpaksa di amputansi, tangannya diberi gips, sungguh malang nasib gadis kecil itu, walau begitu ia tak pernah mengeluh. Berkat data-data yang diberikan suster Sophi Delisa dapat bertemu dengan Abinya. Ia menceritakan semua kondisinya tanpa ada raut wajah sedih, Abinya tidak menyangka Delisa lebih kuat menerima semuanya, menerima takdir yang telah di berikan oleh ALLAH. Delisa dan Abi memulai kembali kehidupan dari awal bersama, mulai menerima keadaan pahit yang telah diterima mereka, sejak saat itu Delisa mulai memahami kata ikhlas, ikhlas menghafal hafalan shalat hanya karena ALLAH SWT semata . Sore itu, Sabtu, 21 Mei 2005, Delisa sedang mencuci tangannya di sungai. Ia terperangah ketika melihat kilauan cahaya dari semak belukar. Kilauan itu berwarna kuning, seperti seutai kalung. Hati Delisa bergetar, bukan karena ia melihat kalung itu berinisial D’, tetapi hatinya bergetar ketika melihat sebuah kerangka manusia yang bersandarkan semak belukar menggenggam kalung emas itu. Itu Umminya, Ummi Salamah. 3. Interpretasi Novel ini menarik dan bacaannya mudah dipahami, dikemas dalam tulisan-tulisan sederhana namun sangat menyentuh. Mengandung nilai raligius dan nilai sosial yang kental. Dalam novel ini tercipta keharmonisan dalam keluarga, saling tolong menolong dan hidup bertetanggan yang baik. Kisah ini mengandung banyak kisah inspiratif, dari kisah seorang anak berumur 6 tahun yang berjuang untuk menghafal bacaan shalat untuk dapat dipraktekkan dengan sempurna. Dia juga telah banyak menerima segala ujian dari Allah, namun ia selalu ikhlas dan tegar menjalaninya, tanpa mengeluh. Kita dapat mengambil manfaat positif dengan meneladani nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya. Serta dalam novel ini terdapat kalimat-kalimat indah yang di tulis oleh penulis semakin membuat novel ini menarik. Meskipun masih ada kata-kata yang kurang dapat dimengerti oleh sebagian kalangan, seperti ayat-ayat suci Al-quran, bahasa daerah, dan lain-lain, akan tetapi tidak mengurangi peminat untuk membaca novel ini. Selain itu perlu diberinya daftar isi, kata pengantar dan sinopsis supaya lebih lengkap. Menurut saya buku ini sangat bagus dibaca untuk semua kalangan karena disajikan dengan bahasa yang komunikatif. Nilai keikhlasan dan kesabaran tinngi yang sangat mengharukan dengan latar belakang tsunami serta pesan yang tersirat dalam novel ini memberikan banyak inspirasi bagi para pembacanya. 4. Ringkasan Ketabahan dan ketegaran sesosok Delisa patut diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Cobaan sedikit apapun jangan membuat kita semakin turun. Justru kita berusaha bangkit untuk menjadi yang lebih baik. Novel karangan Tere Liye ini mampu memikat banyak peminat. Biografi Penulis Nama “Tere Liye” merupakan nama pena seorang penulis berbakat tanah air. Tere Liye sendiri di ambil dari bahasa India dan memiliki arti untukmu. Tere Liye lahir dan tumbuh dewasa di pedalaman Sumatera. Ia lahir pada tanggal 21 mei 1979. Ia berasal dari keluarga sederhana yang orang tuanya berprofesi sebagai petani biasa. Anak ke enam dari tujuh bersaudara. Tere Liye meyelesaikan masa pendidikan dasar sampai di SDN 2 dan SMPN 2 Kikim Timur, Sumatera Selatan. Kemudian melanjutkan ke SMUN 9 Bandar Lampung. Setelah selesai di Bandar Lampung, ia meneruskan ke Universitas Indonesia dengan mengambil Fakultas Ekonomi. Tere Liye menikah dengan Amelia dan di karunia seorang putra bernama Abdullah Pasai. Sampai saat ini ia telah menghasilkan 14 karya. Bahkan beberapa di antaranya telah di angkat ke layar lebar. Berdasarkan email yang di jadikan sarana komunikasi dengan para penggemarnya yaitu darwisdarwis Bisa di simpulkan sederhana bahwa namanya adalah Darwis. Berikut tulis karya Tere Liye Ø Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Gramedia Pustaka Umum,2010 Ø Pukat Penerbit Republika, 2010 Ø Burlian Penerbit Republika, 2009 Ø Hafalan Shalat Delisa Penerbit Republika, 2005 Ø Moga Bunda Disayang Alloh Penerbit Republika, 2005 Ø The Gogons Series James & Incridible Incodents Gramedia Pustaka Umum, 2006 Ø Bidadari – Bidadari Surga Penerbit Republika, 2008 Ø Sang Penandai Penerbit Serambi, 2007 Ø Rembulan Tenggelam di Wajahmu Grafindo 2006 & Republika 2009 Ø Mimpi-Mimpi Si Patah Hati Penerbit AddPrint, 2005 Ø Cintaku Antara Jakarta dan Kuala Lumpur Penerbit AddPrint, 2006 Ø Senja Bersama Rosie Penerbit Grafindo, 2008 Ø Eliana, Serial Anak-Anak Mamak Dari karya-karyanya Tere Liye ingin membagi pemahaman bahwa sebetulnya hidup ini tidaklah rumit seperti yang sering terpikir oleh kebanyakan orang. Hidup adalah anugerah yang Kuasa dan karena anugerah berarti harus di syukuri. Untuk novelnya bisa kalian download disini.
Hafalan Shalat Delisa adalah novel karya Tere Liye yang menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Delisa yang tinggal di desa terpencil di Indonesia. Delisa adalah anak dari seorang imam masjid yang sangat mengajarkan nilai-nilai agama pada Delisa dan seluruh penduduk desa. Cerita dimulai saat gempa bumi besar melanda desa Delisa dan menghancurkan masjid tempat ayahnya beribadah. Delisa harus menemukan kekuatan dan keyakinan dalam dirinya sendiri untuk menghadapi kejadian tragis ini dan membantu para penduduk desa yang terdampak bencana. Cerita Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Delisa yang penuh dengan cobaan dan ujian. Delisa harus kehilangan ayahnya dalam bencana gempa bumi dan tsunami tersebut. Namun, Delisa tidak kehilangan kepercayaan pada Allah dan terus menguatkan iman serta keyakinannya melalui shalat. Hal ini terlihat dari judul novel tersebut, yaitu “Hafalan Shalat Delisa”. Cerita dalam novel ini sangat menyentuh dan mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan. Novel ini sangat cocok untuk dibaca oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari novel ini, seperti kekuatan iman, rasa persaudaraan, dan kegigihan dalam menghadapi cobaan hidup. Karakter Delisa Delisa adalah karakter utama dalam novel ini. Meski masih kecil, Delisa memiliki kekuatan iman yang besar dan mampu memotivasi para penduduk desa untuk tetap bertahan dan melawan rasa putus asa. Delisa juga sangat mencintai keluarganya dan selalu berusaha membantu mereka. Karakter Delisa sangat menginspirasi dan membuat pembaca terkesan. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sangat sederhana dan mudah dipahami. Tere Liye mampu menggambarkan keadaan dan perasaan Delisa dengan sangat detail dan menyentuh. Novel ini sangat cocok untuk dibaca oleh siapa saja, bahkan bagi mereka yang tidak terlalu suka membaca. Kesimpulan Secara keseluruhan, novel Hafalan Shalat Delisa adalah karya yang sangat inspiratif dan menyentuh. Cerita yang terjadi dalam novel ini sangat menggugah hati dan membuat pembaca menjadi lebih menghargai hidup. Karakter Delisa yang kuat dan penuh semangat menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Oleh karena itu, novel ini sangat layak untuk dibaca dan dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan sehari-hari.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Identitas BukuJudul Hafalan Shalat DelisaPenulis Tere Liye Penerbit Republika Tempat Terbit JakartaTahun Terbit 2005Halaman 270 halamanUkuran 13,5 x 20,5 cm Harga Novel ini menceritakan tentang kisah dari seorang anak berusia 6 tahun, ia bernama Delisa, yang hidup bersama Ummi Salamah dan ketiga kakaknya, yaitu Cut Fatimah siswa kelas 1 Madrasah Aliah, si kembar Cut Aisyah dan Cut Zahra yang duduk di kelas 1 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Lhok Nga. Sementara Abinya, Usman bekerja di tanker perusahaan minyak Internasional, yang biasa pulang setiap 3 bulan sekali untuk menemui keluarganya. Mereka tinggal bersama di komplek perumahan sederhana di pinggir pesisir pantai Lhok Nga, Aceh. Keluarga ini sangatlah bahagia, dengan 4 anak shaleha dengan karakter yang berbeda - beda. Delisa yang bersifat manja dan baik hati, Aisyah yang egois, Fatimah yang bijaksana, Zahra yang pendiam, sehingga menciptakan suasana keributan - keributan kecil pada keluarga itu. Suatu hari Ummi dan Delisa pergi ke pasar untuk membeli kalung emas 2 gram di toko Koh Acan sebagai hadiah ujian praktek hafalan shalat yang akan dilakukan Delisa untuk di setorkan kepada Bu Guru Nur. Abi juga akan memberikan hadiah berupa sepeda untuk Delisa, hal itu mebuat Delisa semakin bersemangat untuk menghafal lafadz bacaan shalatnya. Pagi, 26 Desember 2004 Delisa akan melaksakan ujian praktek hafalan shalatnya. Dengan raut wajah tegang, memucat. Delisa mengangkat tangannya yang gemetar, namun mantap hatinya berkata Delisa akan khusyu' Allahu Akbar. Lantai laut retak seketika Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Vas bunga pecah menggores lengan Delisa . Gelombang itu bergetar menyapu Banda Aceh. Namun sedetik berikutnya sejuta air membucah keluar, desiran dahsyat ombak menggulung pesisir komplek, anehnya Delisa tetap kusyu' membaca lafadz shalatnya. Gelombang itu menghantam tubuh Delisa dengan keras, ia terpelenting jauh, entah kemana Delisa terbawa arus ombak. Selama 6 hari Delisa tak sadarkan diri, dia ditemukan dengan keadaan yang sangat menyedihkan, persis seperti mayat. Delisa dirawat di rumah sakit, tak lagi terbaring di semak - semak belukar, tak lagi meminum air hujan, tak lagi kepanasan terpapar sinar matahari. Delisa dirawat dengan banyak selang di tubuhnya, kepalanya dipangkas dengan banyak luka jahitan, lebih dari 20 jahitan, serta kaki yang telah membusuk sehingga terpaksa harus di amputasi, tangannya di beri gips, sungguh malang nasib Delisa, walau seperti itu ia tidak pernah mengeluh. Berkat data - data yang diberikan suster Sophi, Delisa dapat bertemu dengan Abinya. Ia menceritakan tentang kondisinya tanpa ada raut wajah sedih, Abinya tidak menyangka Delisa lebih kuat menerima semuanya, menerima takdir yang telah diberikan Allah SWT. Delisa dan Abinya memulai kehidupannya dari awal, mulai memahami kata ikhlas, ikhlas menghafal hafalan shalat hanya karena Allah SWT semata. Sore itu, Sabtu, 21 Mei 2005, Delisa yang sedang mencuci tangannya di sungai, Ia terdiam ketiak melihat kilauan cahaya dari semak belukar. Kilauan itu bewarna kuning, seperti kalung. Hati Delisa sontak bergetar, bukan karena ia melihat kalung itu berinisial 'D'.Rangkuman Alisa Delisa merupakan seorang gadis kecil yang ingin menghafal hafalan shalat untuk ujian praktek yang akan dilakukannya di depan kelas. Awalnya ia sangat bersemangat menghafal karena Ummi nya membeli kalung emas serta sepeda dari Abinya sebagai hadiah kelulusan ujian praktek Delisa. Tapi kejadian yang tak terduga terjadi, bencana tsunami melanda ketika ia sedang menghafal di depan kelasnya, hal itu membuat Delisa kehilangan keluarganya, kehilangan satu kakinya. Namun ia tetap tegar menerimanya dan ia sangat bersyukur masih memiliki Abi, cobaan ini membuat Delisa belajar memahami akan arti kesabar dan keikhlasan. UNSUR - UNSUR INTRINSIK- Tema Perjuangan- Tokoh dan Penokohan Delisa manja, baik hati, Ummi Salamah bijaksana, rendah hati, Abi Usman baik hati, sayang keluarga, Cut Fatimah tegas, penyayang, Cut Aisyah egois, Cut Zahra pendiam, Koh Acan baik hati, Teuku Uman nakal, Tiur baik hati, Prajurit Smith perhatian, Suster Sophi baik hati, Kak Ubai baik hati. - Latar Tempat ; Pesisir pantai Lhok Nga, Rumah sakit kapal induk, Semak - semak, Latar Waktu Pagi, siang, malam, dini Suasana Senang, sedih, Sudut Pandang sudut pandang yang digunakan penulis dalam cerita ini yaitu sudut pandang orang ketiga. Hal ini dapat dibuktikan oleh penulis yang selalu menyebutkan nama tokoh yang terdapat dalam novel Alur dalam novel ini alur yang digunakana dalah alur maju-mundur. Hal ini dapat dibuktikan ketika tokoh utama kembali mengngat ke masalalu a9membayangkan saat - saat dulu ia bersama keluarganya.- Amanat 1. Bersyukur dan tetap selalu ikhlas terhadap cobaan yang diberikan oleh Allah SWT2. Jangan menyerah dengan keadaan3. Percayalah, setiap masalah pasti ada jalannyaKelebihan dan kelemahan- Kelebihan Novel ini menarik dan mudah di pahami, disusun dengan tulisan - tulisan sederhana namun sangat berkesan. Mengandung nilai - nilai religius dan nilai sosial yang tinggi. Dalam novel ini tergambar keharmonisan suatu keluarga. Kisah ini banyak mengandung kisah inspiratif, yaitu kisah seorang anak yang berusia 6 tahun yang berjuang untuk menghafal hafalan shalat agar sempurna ketika pengambilan nilai. Ia juga menu=erima ujian dari Allah SWT denga Kelemahan Dalam novel ini tidak terdapat daftar isi, kata pengantar dan novel ini sangat menarik. Disajikan dengan tulisan yang mudah di pahami dan sangat berkesan. 1 2 3 Lihat Hobby Selengkapnya
resensi novel hafalan shalat delisa